HEBATNYA PEMUDA QUR’ANI

Hebatnya Pemuda Qur'ani

0
51
Pemuda Qur'an
Pemuda Qur'an

Islam pernah melahirkan tokoh-tokoh inspiratif yang berpengaruh terhadap kemajuan Islam sehingga bisa menjadi pemimpin dunia. Sebagian dari para tokoh penting kemajuan Islam adalah para pemuda yang bukan hanya mempunyai semangat juang tinggi, namun mempunyai pemahaman Islam yang kuat sehingga mempunyai aqidah mantap. Beberapa diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al-Fatih, dan Usamah bin Zaid. Ali bin Abi Thalib adalah pemuda pertama yang masuk Islam. Dialah orang yang senantiasa mendampingi dan melindungi Rasulullah. Hingga, pembuktian akan kecintaan kepada Rasulullah terlihat amat nyata ketika ia menggantikan Rasulullah di tempat tidur beliau sesaat sebelum Hijrah. Selanjutnya Ali mempunyai pengaruh amat besar bagi perkembangan Islam.

Kisah Muhammad Al-Fatih juga begitu masyhur. Dalam usia 21 tahun, beliau sudah menjadi panglima perang pasukan muslim untuk meruntuhkan salah satu imperium yang telah berdiri kokoh selama 11 abad, Byzantium. Ada juga Usamah bin Zaid. Pemuda yang saat berumur 18 tahun sudah mendapat kepercayaan Rasulullah, yang dilanjutkan Abu Bakar Ash-Shidiq, memimpin pasukan muslim menghadapi salah satu kekuatan terbesar saat itu untuk membebaskan bumi Syam, Romawi. Dan Usamah membuktikan bahwa Ia benar-benar orang yang tepat menggenggam amanah itu, bumi Syam dapat dibebaskan dari Romawi.Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al-Fatih, dan Usamah bin Zaid adalah pemuda-pemuda yang mampu menginspirasi orang-orang disekitarnya.

Ketiga pemuda Islam ini mempunyai beberapa kesamaan. Pertama, mereka mempunyai pemahaman yang baik tentang Islam dan menjadikannya pedoman hidupnya. Kedua, rasa cinta terhadap Islam dan kemauan untuk menyebarkan dakwah Islam sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan peran ketiganya dalam peperangan-peperangan dalam rangka memerangi musuh Allah dan memperluas wilayah dakwah. dan yang harus diingat, mereka telah mengikuti perang sejak usia sangat muda. Lahirnya pemuda-pemuda seperti inilah yang menjadi harapan umat Islam saat ini, disaat maraknya kemerosotan moral umat dan mulai ditinggalkannya syari’at Islam.

Ustadz Budi Ashari dalam beberapa ceramahnya menyatakan :

“Peradaban Islam akan bangkit kembali jika masjid-masjid dan majelis ilmu dipenuhi oleh Pemuda”

Beliau sangat menyadari betapa pentingnya peran pemuda bagi kemajuan Islam, yang sangat sulit kita temukan pada jaman yang mendekati akhir ini. Kesadaran ini bukan hanya menjadi milik pemuda yang bersangkutan, namun juga orang tua sang pemuda dan masyarakat secara umum. Orang tua adalah guru pertama bagi mereka. Apa yang menjadi pemahaman dan sikap pemuda sebagian besar ditentukan oleh bagaimana dan apa yang diajarkan oleh orang tua.

Ada sebagian dari orang tua, dan pemuda itu sendiri, sudah paham betul bahwa berpegang pada Islam lah yang akan menyelamatkan mereka kelak. Sehingga, para pemuda ini, dengan mandiri atau melalui dorongan dari orang tua serta orang lainnya, berkenan untuk mempelajari Islam. Sayangnya, beberapa diantara mereka sudah puas dengan sebatas menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an secara lengkap 30 juz adalah sebuah tujuan, dan ketika itu sudah tercapai maka kewajiban untuk mempelajarinya telah gugur. begitulah yang terlintas di benak sebagian kalangan, meskipun mereka tidak menyetujuinya secara langsung. Jadilah pemuda penghafal Al-Qur’an itu sebagai seorang yang punya ingatan tajam lalu terus mengasah, lalu memilih memanfaatkan kemampuan hafalannya itu untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan, bukan memahaminya sebagai sarana dakwah untuk umat. Sebagian lagi mempunyai kesadaran yang cukup besar, sehingga hafalan adalah sarana untuk memahami dan menerapkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an.

Generasi terdahulu tidak menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai tujuan. Justru hafalan adalah modal besar yang digunakan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Muhammad Al-Fatih tumbuh dalam didikan Al-Qur’an sejak kecil. Sang ayah, Sultan Murad II, paham bahwa Al-Qur’an adalah pedoman dasar dalam Islam untuk menjalankan segala aktivitas. Untuk itulah Beliau yang saat itu menjadi Khalifah daulah Utsmani meminta beberapa ulama besar untuk memberi bimbingan Islam kepada Muhammad waktu masih kecil. Dalam bimbingan Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani, Muhammad II mulai mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Setelah menghafal Al-Qur’an dalam usia delapan tahun, Muhammad II mendapat bimbingan keilmuan yang lebih mendalam dari Syaikh Aaq Syamsuddin. Muhammad II naik tahta sebagai khalifah saat menginjak usia yang masih sangat belia, 19 tahun, lalu beliau melancarkan misi besar untuk menakhlukan Konstantinopel. Misinya dapat tercapai di usia 21 tahun, pada usia yang cukup muda bagi seorang panglima besar dan khalifah daulah Utsmani. Atas penaklukan Konstantinopel, dunia memberi penghormatan yang besar bagi Muhammad sang penakluk.

Tentu saja pemuda tersebut mempunyai aqidah kuat yang melandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup. Pemuda dan Al-Qur’an harus menjadi satu kesatuan. Maka, “Kembalikanlah pemuda kepada Al-Qur’an, maka ia akan mengembalikan Islam kepada kejayaannya.”